Ada baiknya untuk postingan
blog kali ini gue menuliskan mengenai hal pribadi yang masih berkaitan erat
dengan Indonesia, jadi postingan blog ini hingga sampai tanggal 17 agustus
nanti masih akan tetap berbau negara kita tercinta dan juga mengenai apa yang
gue rasakan. Ini merupakan sebuah kisah yang sampai saat ini masih teringat dan
tidak banyak yang mengetahuinya, intinya ini hanya gue dan perjalanan gue.
Sebelum ini gue berifikir hal yang menjadi
batas dalam hidup gue, entah bagaimana cara mengukurnya gue juga masih bingung.
Disuatu ketika gue juga berfikir kenapa gue selalu merasa ada yang kurang
padahal diluar sana masih banyak hal yang belum gue ketahui walaupun gue merasa
sudah tahu segalanya, namun tidak. Ini hanya sedikit dari hal yang gue ketahui,
mengenai batas yang gue tidak tahu dimana ujungnya. Pemikiran yang rumit ini
terasa sangat asik jika gue pikirkan sendiri dan gue selalu saja tidak lupa
untuk berfikir hal semacam ini.
Gue membayangkan
apa yang terjadi jika hal yang gue anggap tidak biasa, menjadi biasa. Hal yang
mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang biasa untuk dilakukan, tapi bagi sebagian
orang seperti gue adalah suatu batas yang tidak bisa dilampaui begitu saja
seperti orang yang memang menganggap hal itu biasa. Banyak hal yang gue anggap
tidak akan pernah gue lakukan di dunia ini dan tidak akan pernah gue lakukan,
ternyata pada malam itu gue memutuskan untuk melakukannya.
Pada saat itu tanpa
pikir panjang gue memantapkan hati gue untuk melakukannya, inilah awal dari
sebuah perjalanan.
Sekitar pukul 6 pagi gue pulang kerumah dengan menggunakan sepeda
yang pada malam itu gue bawa untuk berjalan-jalan dikota sambal membuat
keputusan hingga gue capek dan memutuskan untuk numpang tidur di asrama saja. Sempat
terbesit dalam benak gue untuk tidak melakukan perjalanan itu karena malas,
ngantuk, dll, Tapi fikiran itu tidak bertahan lama dan hilang begitu saja. Sampai
dirumah tanpa pikir-pikir lagi gue membuat rencana hingga menyiapkan pakaian. Pakaian
yang gue bawa saaat itu tidak banyak hanya satu set pakaian lengkap luar
dalamnya dan yang terpasang dibadan, itu saja. Uang saat itu kurang dari 50
ribu
Perjalanan dimulai ketika gue mulai mengayuh sepeda keluar dari
jalanan kompleks karena hal yang pertama yang gue lakukan adalah mebeli masker
penutup wajah. Selanjutnya menyusuri jalanan kota yang mulai panas karena sudah
sekitar jam 10.00 wib. Gue juga sempat berfikir kembali mengenai apa yang gue
lakukan ini, tapi gue tetap mengayuhkan sepeda itu dengan kaki gue.
Perjalanan ini gue renacanakan akan sampai ke tujuan dalam dua
hari saja dengan cara gowes dan nebeng. Tujuan gue adalah pulang ke kempung
halaman gue yang dari dulu gue anggap perjalanan itu sangat menyenangkan karena
ada pemandangan yang luar biasa dan tidak akan gue rasakan selain dengan naik
bus atau motor saja.
Setelah berada jauh dari kota gue memutuskan untuk mulai melakukan
system nebeng agar waktu perjalanan ini tidak termakan karena habis untuk
istirahat. Saat itu jalanan sedang macet karena ada acara pesta dan satu lagi
entah kegiatan apa tapi yang jelas kegiatan itu berada di sekolahan kalua gue
tidak salah. Itu seharunya membuat gue lebih mudah unntuk menebeng, tapi
kenyataannya gue terus berifikir untuk mencari mobil pick-up atau truk yang
paling depan dari kemacetan ini, ternyata sangat jauh dan gue udah mulai
memilih mobil yang searah dan menanyakannya. Awalnya tidak mulus tapi setelah
beberapa kali mencoba akhirnya gue mendapatkannya. Mengenai perasaan gue saat
itu sudah jelas sangat senang sekali, itulah pertama kalinya gue nebeng dan
diperbolehkan oleh pemilik mobilnya. Gue duduk di belakang dengan sepeda yang
gue bawa dan tas yang gue sandang. Namun ternyata perjalanan itu tidak jauh,
gue akhirnya turun lagi karena si pemilik mobil memutuskan untuk memutar balik
dan tidak jadi melanjutkan perjalanannya. Gue fikir mungkin karena macet pada
saat itu cukup parah jadi ya mau gimana lagi, gue terpaksa mengakhiri rasa
senang dalam hati gue dan lanjut gowes. Sejak saat itu gue tidak mendapati
tumpangan hingga sangat jauh setelah itu.
Sebelum mendapati tumpangan untuk selanjutnya terpaksa gue harus
menikmati panas dan debu jalan. Gue memutuskan untuk beristirahat beberapa
kali.
“jika kami tidak memulai
dari sesuatu yang sekedar terlintas dalam benakmu, maka kamu tidak akan pernah
memulai dari yang lebih rumit dari sekedar terlintas dalam benakmu” – 28 april 2018 @ lintas Riau-sumbar (Kampar)
Dan akhirnya gue mandapatkan tumpangan yang kedua atau mungkin
yang pertama karna tumpangan yang pertama sangat dekat sekali. Gue mendapati
tumpangan itu ketika sudah beberapa jam perjalanan, tepatnya pukul 11.22 wib. Mobil
yang gue tumpangi saat itu adalah L300 jenis pick-up. Itu rasanya sangat senang
sekali kalua boleh gue ulangi karena ketika gue melakukan perjalanan yang
terkadang gue fikir tidak berguna ini ada saja orang Indonesia yang sangat baik
hatinya dan memberikan gue tumpangan. Banyak hal yang gue dapatkan dari
cerita-cerita dengan pemilik mobil ini mulai dari tahu bahwa Indonesia itu
memang orangnya baik hati hingga nasihat karena si pemilik mobil ini menganggap
gue kabur dari rumah, ya jelas gue bantahlah dan jelasin baik-baik ke sibapak
sopir dan gue ada rekan dan anak kecil juga didalamnya. Mengenai kebaikan dari
sipemilik mobil ini tidak hanya disitu saja, tapi dia juga menawarkan minum
yang ada digalon dalam mobilnya, letaknya dekat kaki gue sehingga diperjalanan
agak melipat kaki gitu. Akhirny gue terima kebaiknya dan terakhir dia
menyodorkan duit sejumlah 50 ribu, sungguh hal yang sangat ingin gue miliki
disaat-saat seperti ini. Namun gue tolak dengan halus dengan mengatakan bahwa
perjalanan gue ini tidak akan memakai biaya yang besar. Ya pada akhirnya kami
berpisah dijalan dan sibapak juga menyuruh untuk mampiir ketempatnya ketika
sempat nanti.
Dari tepat ini gue gowes lagi, berjalan gue mulai terasa berat karena
cuaca mulai panas dan capek. Gue lebih sering berhenti untuk mencari tumpangan
lagi namun tidak semudah yang sebelum-sebelumnya, disini lumayan susah karena
gue fikir banyak yang sedang ingin cepat
sampai ketujuan mereka masing-masing. Gue hampir saja patah semangat
untuk melanjutkan perjalanan ini namun setelah gue pikir perjalanan kembali
akan sama beratnya dari pada lanjut.
Sedikit demi sedikit perjalanan ini gue lanjutkan dengan gowes dan
menanyakan setiap kendaraan pick up yang gue temui, sesekali juga berhenti dan focus
untuk mengangkat jempol sambal teriak “numpang ciek da!” ini adalah Bahasa minang
yang jika diartikan “nebeng”
Setelah susah payah nanya kesana-kemari dan mengangkat jempol
akhirnya ada mobil pickup yang melambatkan lajunya dan gue samperin. Gue tanya
arahnya dan boleh tidaknya, akhirnya gue numpang juga dan Im so happy lah
pokoknya. Awalnya gue duduk di bak belakang yang gue udah cukup bersyukur, dan
ternyata tak jauh kemudian si abang punya mobil ini menyuruh gue pindah
kedepan, dan gue mau dong secara ya gak kapasan.
”orang yang tidak bisa
bicara bukan tidak mungkin akan menjadi pembicara, karena untuk menjadi harus
memperlajari” – 28 april
2018 @ lintas bangkinang-sumbar
Awalnya gue Cuma diam saja diperjalanan hingga akhirnya gue berani
memulai pembicaraan dengan abang sopirnya. Diperjalanan kami banyak bicara
hal-hal mengenai bisnis dan masa depan, topik yang sangat gue sukai. Setelah beberapa
lama gue tahu bahwa nama abang itu adalah @kharaben ( cek ig nya) dengan si
abang ini gue banyak cerita – cerita disepanjang jalan, menurut gue abangnya
ini sangat baik sekali karena dia selalu menerima apa yang kita ucapkan tanpa
membantahnya hingga gue merasa di dengarin. Tak hanya disitu saja diperjalanan
gue juga dibeliin es tebu dan diperbolehkan untuk meminjam HPnya untuk
dokumentasi gue, secara HP gue kameranya tidak berfungsi lagi.
Gue juga minta berhenti sebentar untuk berfoto di kelok 9
![]() |
| pickup dan sepeda |
Kami berhenti dan take beberapa foto untuk dokumentasi. Hingga akhiirnya
Lagi kami berpisah. Ini merupakan
tumpangan terjauh gue dan terlama dan menyenangkan.
Kami berpisah di payahkumbuh.
Gue melanjutkan perjalanan dengan sepeda lagi. Karena udah sore
gue juga harus menunaikan sholat yang tadi gue hutang sekaligus. Gue berhenti
di sebuah masjid dan sholat. Perasan gue sholat di payakumbuh ini adalah cemas
dan ragu karena gue sholatnya udah hampir jam 5an dan orang-orang disekitar
pada ngeliatin gue. Mungkin karena tampang gue yang kucel kali ya. Liat aja
fotonya tuh, yakan.
Perjalan berlanjut dengan gowes yang udah mulai berat, lapar, dan
capek juga. Kalua ditanya tempat paling berta bagi gue adalah di tempat ini
karena mencari tumpangan di tempat ini sangat amat susah, ini tempat nebeng
paling susah menurut gue. Tapi karena pemandangannya sangat indah dan tidak
begitu panas jadi yang sama aja denga yang sebelumnya. Kurang lebih sih begitu.
Berjam-jam bin berkilo-kilo mengayuh sepeda ini gue akhrinya dapat
tumpangan juga yang mengantarin gue hingga sampai ketujuan. Kali ini yang ngaterin gue adalah suami istri yang
sengaja mengantarkan gue karena dari tadi gue gak sengaja minta tebengan sama
mereka terus. Orangnya ramah dan baik-baik juga tapi ketika ini gue udah mulai
gelap dan capek sekali. Jadi gabanyak yang gue ingat selain turun dan
berterimakasih karena sudah mau mengantar gue sejauh ini.
Gue turun dan membeli pulsa dan minuman. Akhirnya gue sampai
juga!!!
Nah, dari perjalanan gue ini banyak hal yang tidak gue dapatin
dari hanya sekedar memikirkan untuk melampaui batas gue. Batas yang sesungguhnya bukanlah hal yang tidak bisa kita tembus tapi
adalah hal yang sengaja kita ciptakan untuk tidak dapat menembus atau
melapauinya.
Dan selain itu hal yang gue anggap tidak berguna ini ternyata
banyak gunanya, karena dari situ gue dapat mengetahu bahwa jika kita menganggap banyak orang cuek terhadap apa yang kita lakukan
tapi banyak juga orang yang perduli dengan yang kita lakukan itu. Selain itu
juga orang yang gue temui selama diperjalanan sangat ramah-ramah dan baik
sekali. Membuktikan bahwa Indonesia memang terkenal dengan masyarakatnya yang
ramah.\
MERDEKA!!!


0 komentar:
Post a Comment