Thursday, February 7, 2019

Cerita Pengalaman di Desa Batu Sanggan #PART 1



  • CERITA KEMARIN
at desa batu sanggan, kec. Kampar kiri hulu, kab. Kampar


Setiap tindakan pasti di dahului oleh namanya pilihan. Pilihan itu terkadang ada yang berat dan ada yang mudah, tergantung situasi, kondisi, dan toleransi atau biasa disingkat SiKonTol. Dalam kondisi memilih juga ada yang namanya pilihan yang bijak dan pilihan yang semena-mena.

Awalnya aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat mudah, namun kian waktu berlalu pilihan itu mulai terasa berat sehingga aku harus kembali menyesuaikan dengan SiKonTol tadi agar bisa memilih dengan bijak. Bukan berarti pilihan ini akaj menjadi pilihan yang tepat bagiku, tapi bisa jadi malah sebaliknya.

Pilihan ini adalah pilihan untuk mengikuti sebuah kegiatan yang awalnya aku fikir bisa menjadi opsi liburan kuliah karena aku akan mengikuti kegiatan ruang bakti pendidikan dari kelompok forum berbagi ilmu (FBI Indonesia). Kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ter isolir yang sangat membutuhkan bantuan dibidang pendidikan kepada seluruh masyarakat, baik kepada anak sekolah maupun warga. Kali ini opsi tempatnya adalah desa batu sanggan, kec. Kampar kiri hulu, kab. Kampar. Disana merupakan tempat yang sangat jauh dan membutuhkan dua jenis transportasi untuk sampai ke lokasi yaitu transportasi darat dan transportasi air yaitu perahu untuk menyusuri sungat subayang. [1]
Dari kota aku dan teman-teman yang lain sudah melakukan meeting untuk melancarkan kegiatan kesana, dan aku siap untuk itu. Beberapa hari menjelang hari keberangkatan atau lebih tepatnya ketika technical meeting dan menyiapkan semua kebutuhan sebelum berangkat keesokan harinya aku merasa tidak yakin untuk mengikuti kegiatan ini. Alasannya tidak lain adalah karena SiKonTol tadi, aku kurang enak badan. Sempat terlintas dalam fikir ku untuk tidak mengikuti kegiatan ini dan hanya memberikan support kepada rekan-rekan yang lain agar semangat dalam melakukan misi kemanusiaan ini, ya begitulah inti perkataan dari ketua umum forum berbagi ilmu ketika aku berbincang dengannya, dan Memang demikian aku rasa.

Malam hari sebelum keberangkatan aku mendapat wejangan agar tetap berangkat kesana untuk liburan, niat awalnya begitu. Semua persiapan sudah aku Persiapkan dengan matang dan aku juga sudah kontek2an dengan temanku yang akan berangkat besok paginya. Menurut perjanjian kami berangkat sekitar jam 10.00 wib dari lokasi kumpul (Gedung MTQ kota Pekanbaru)

Semua persiapan sudah standby. Dan pagi pun datang.

Pagi jam 10 karet. Kami berangkat naik bus menuju pelabuhan di gema, nama lokasinya. Di bus tidak banyak yang berkesan selain dari pertemuan kami dengan volunteer lainnya. Kami hanya saling mengakrabkan diri karena sebelumnya tidak saling kenal, walaupun ada sebagian sudah kenal namun ya tetap ada orang hebat yang belum dikenal.

Sampai di gema, kami menurunkan perlengkapan dan setelah itu berkumpul untuk mendapatkan pencerahan dan aturan sebelum memasuki desa yang akan di tuju. Hal yang paling umum dan paling harus dijaga adalah kelakuan dan tutur bahasa, setidaknya begitu yang di sampaikan oleh ketuanya dan kami harus mematuhi itu.[2]
Perjalanan selanjutnya menggunakan perahu mesin untuk melawan arus sungai. Harus ku akui ini adalah pengalaman paling seru dan menyenangkan yang pernah aku rasakan, kalau teman-teman bilang "gadak obatnya bahh", memang betul begitu.

Menaiki perahu yang kira2 cuma muat 10 orang itu cukup membuatku merasa senang sekaligus dedegan manantahu perahunya terbalik, tapi mudah2an jangan dah karena banyak barang bawaan yang harus diselamatkan.

Aku duduk Persis didepan pak sopir yang mengendalikan perahu dengan lihainya untuk menghindari ombak kecip dari sungai dan arus yan deras. Sesekali aku juga disuruh oleh paman nakhoda untuk menimba air yang masuk ke perahu agar tidak tenggelam dan meninggalkan cerita titanic versi kami.

[3]
Pemandangan kiri kanan sungai ini sangat amat indah sekali, seolah haram untuk berkedip selama di perjalan naik perahu ini. Bagaimana tidak, beberapa kali kami harus melambaikan tangan kepada perahu masyarakat desa yang lewat, bahkan kepada monyet, biawak dan segala jenis hewan yang menyambut kedatangan kami dengan caranya sendiri.

Tidak berapa lama, kami Sampai pada titik peristirahatan untuk makan siang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa batu sanggan. Lokasinya cukup asik untuk beristirahat makan siang karena luas dan berada di tengah sungai, kalau digambarkan ya seperti pulau kecil yang penuh rumput.

Perjalan dilanjutkan ke desa dengan menepikan perahu kami ke pelabuhan kecil desa batu sanggan.

SELAMAT DATANG DI DESA BATU SANGGAN KEC. KAMPAR KIRI HULU, KAB. KAMPAR

Begitulah kira2 bisik air dan alam disana kepada kami.

Sampai disana kami berkumpul dan Kembali diingatkan akan hal yang perlu diperhatikan selama kami tinggal 5 hari disini. Setelah itu kami langsung mendekati warga untuk sekedar salam kenal pertanda kami berada disini untuk melakukan pengabdian, dan kata penyemangat pun terucap oleh warga disini "selamat datang, anggap saja di kampung sendiri. Kami juga menantikan kehadiran anak2 sekalian" . Seketika itu semangat ku, terpantik dan menyemburkan api, bak mancis yang sedang di hidupkan. [4]
Share:
Lokasi: Kampar Kiri Hulu, Kampar Regency, Riau, Indonesia

0 komentar:

Post a Comment