- CERITA KEMARIN
Setiap tindakan pasti di dahului oleh namanya pilihan.
Pilihan itu terkadang ada yang berat dan ada yang mudah, tergantung situasi,
kondisi, dan toleransi atau biasa disingkat SiKonTol. Dalam kondisi memilih
juga ada yang namanya pilihan yang bijak dan pilihan yang semena-mena.
Awalnya aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat
mudah, namun kian waktu berlalu pilihan itu mulai terasa berat sehingga aku
harus kembali menyesuaikan dengan SiKonTol tadi agar bisa memilih dengan bijak.
Bukan berarti pilihan ini akaj menjadi pilihan yang tepat bagiku, tapi bisa
jadi malah sebaliknya.
Pilihan ini adalah pilihan untuk mengikuti sebuah kegiatan
yang awalnya aku fikir bisa menjadi opsi liburan kuliah karena aku akan
mengikuti kegiatan ruang bakti pendidikan dari kelompok forum berbagi ilmu (FBI
Indonesia). Kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ter
isolir yang sangat membutuhkan bantuan dibidang pendidikan kepada seluruh
masyarakat, baik kepada anak sekolah maupun warga. Kali ini opsi tempatnya
adalah desa batu sanggan, kec. Kampar kiri hulu, kab. Kampar. Disana merupakan
tempat yang sangat jauh dan membutuhkan dua jenis transportasi untuk sampai ke
lokasi yaitu transportasi darat dan transportasi air yaitu perahu untuk
menyusuri sungat subayang. [1]
Dari kota aku dan teman-teman yang lain sudah melakukan
meeting untuk melancarkan kegiatan kesana, dan aku siap untuk itu. Beberapa
hari menjelang hari keberangkatan atau lebih tepatnya ketika technical meeting
dan menyiapkan semua kebutuhan sebelum berangkat keesokan harinya aku merasa
tidak yakin untuk mengikuti kegiatan ini. Alasannya tidak lain adalah karena
SiKonTol tadi, aku kurang enak badan. Sempat terlintas dalam fikir ku untuk
tidak mengikuti kegiatan ini dan hanya memberikan support kepada rekan-rekan
yang lain agar semangat dalam melakukan misi kemanusiaan ini, ya begitulah inti
perkataan dari ketua umum forum berbagi ilmu ketika aku berbincang dengannya,
dan Memang demikian aku rasa.
Malam hari sebelum keberangkatan aku mendapat wejangan agar
tetap berangkat kesana untuk liburan, niat awalnya begitu. Semua persiapan
sudah aku Persiapkan dengan matang dan aku juga sudah kontek2an dengan temanku
yang akan berangkat besok paginya. Menurut perjanjian kami berangkat sekitar
jam 10.00 wib dari lokasi kumpul (Gedung MTQ kota Pekanbaru)
Semua persiapan sudah standby. Dan pagi pun datang.
Pagi jam 10 karet. Kami berangkat naik bus menuju pelabuhan
di gema, nama lokasinya. Di bus tidak banyak yang berkesan selain dari pertemuan
kami dengan volunteer lainnya. Kami hanya saling mengakrabkan diri karena
sebelumnya tidak saling kenal, walaupun ada sebagian sudah kenal namun ya tetap
ada orang hebat yang belum dikenal.
Sampai di gema, kami menurunkan perlengkapan dan setelah itu
berkumpul untuk mendapatkan pencerahan dan aturan sebelum memasuki desa yang
akan di tuju. Hal yang paling umum dan paling harus dijaga adalah kelakuan dan
tutur bahasa, setidaknya begitu yang di sampaikan oleh ketuanya dan kami harus
mematuhi itu.[2]
Perjalanan selanjutnya menggunakan perahu mesin untuk
melawan arus sungai. Harus ku akui ini adalah pengalaman paling seru dan
menyenangkan yang pernah aku rasakan, kalau teman-teman bilang "gadak
obatnya bahh", memang betul begitu.
Menaiki perahu yang kira2 cuma muat 10 orang itu cukup
membuatku merasa senang sekaligus dedegan manantahu perahunya terbalik, tapi
mudah2an jangan dah karena banyak barang bawaan yang harus diselamatkan.
Aku duduk Persis didepan pak sopir yang mengendalikan perahu
dengan lihainya untuk menghindari ombak kecip dari sungai dan arus yan deras.
Sesekali aku juga disuruh oleh paman nakhoda untuk menimba air yang masuk ke
perahu agar tidak tenggelam dan meninggalkan cerita titanic versi kami.
[3]
Pemandangan kiri kanan sungai ini sangat amat indah sekali,
seolah haram untuk berkedip selama di perjalan naik perahu ini. Bagaimana
tidak, beberapa kali kami harus melambaikan tangan kepada perahu masyarakat
desa yang lewat, bahkan kepada monyet, biawak dan segala jenis hewan yang
menyambut kedatangan kami dengan caranya sendiri.
Tidak berapa lama, kami Sampai pada titik peristirahatan
untuk makan siang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa batu sanggan.
Lokasinya cukup asik untuk beristirahat makan siang karena luas dan berada di
tengah sungai, kalau digambarkan ya seperti pulau kecil yang penuh rumput.
Perjalan dilanjutkan ke desa dengan menepikan perahu kami ke
pelabuhan kecil desa batu sanggan.
SELAMAT DATANG DI DESA BATU SANGGAN KEC. KAMPAR KIRI HULU,
KAB. KAMPAR
Begitulah kira2 bisik air dan alam disana kepada kami.
Sampai disana kami berkumpul dan Kembali diingatkan akan hal
yang perlu diperhatikan selama kami tinggal 5 hari disini. Setelah itu kami
langsung mendekati warga untuk sekedar salam kenal pertanda kami berada disini
untuk melakukan pengabdian, dan kata penyemangat pun terucap oleh warga disini
"selamat datang, anggap saja di kampung sendiri. Kami juga menantikan
kehadiran anak2 sekalian" . Seketika itu semangat ku, terpantik dan
menyemburkan api, bak mancis yang sedang di hidupkan. [4]

0 komentar:
Post a Comment